Tak Percaya Cinta: Langkah Ketiga

“… kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya. Mempelai wanita, apakah anda bersedia mendampinginya sehidup semati, dalam sukacita ataupun dukacita. Selamanya?”

(Tunggu.)

..

Seperti biasa, aku adalah gadis terakhir yang menunggu di depan gerbang sekolah; menanti ayahku menjemputku setelah ia pulang kerja. Kantornya tak jauh dari sekolahku.

Ada dua hal yang tak biasa saat itu. Pertama, waktu itu hujan sangat deras. Udara begitu dingin. Sehingga, menunggu sendirian di gerbang sekolah terasa begitu lama dan menyeramkan. Kedua, waktu itu ada kamu.

Aku masih ingat bagaimana kamu mengenakan jaket milikmu di pundakku agar aku tidak kedinginan.

..

Mungkin aku terlalu cepat dewasa. Tetapi, sewaktu aku SMA, anak laki-laki dengan gaya bad boy yang kebetulan adalah Ketua OSIS, sekaligus pemain basket paling handal di sekolah sungguh sama sekali tidak membuatku tertarik. Aku justru melihat pribadi yang labil dan rapuh pada anak laki-laki seperti itu. Di masa depan, kemungkinan besar mereka hanya akan jadi laki-laki playboy dengan karier standar yang terus-terusan mengenang kejayaan masa SMA dan enggan memajukan hidupnya sendiri, apalagi memikirkan hidup orang lain. Bocah tipikal sekolah swasta ternama yang punya orang tua – kebetulan – sudah kaya raya.

Kamu berbeda. Kamu bukan anak laki-laki bergaya bad boy, kamu adalah pria yang seringkali duduk di sudut kelas dan menghabiskan waktumu untuk membaca; sesekali kamu berbincang dengan beberapa teman, dengan sikap yang sangat santun. Aku juga ingat bagaimana kamu memperlakukan orangtuamu waktu mengambil rapor. Ketika anak-anak yang merasa keren itu seolah malu dan gelisah dengan keberadaan orangtuanya, kamu duduk menemani ayah dan ibumu sambil banyak tertawa.

Hal-hal tadi tidak akan pernah dipahami dan dilakukan oleh bocah-bocah populer di masa SMA yang terus-terusan berkata kasar dalam setiap obrolan, tetapi, menganggap dirinya keren.

Aku merasa kamu begitu misterius.

Namanya adalah Benny.

..

Kita selalu percaya – mengambil filosofi Paulo Coelho – bahwa dunia juga berkonspirasi untuk menyatukan dua insan yang sedang jatuh cinta. Sayangnya, konspirasi dunia tidak memberitahukan waktu: tentang berapa lama aku dan kamu boleh bersatu. Sebelum kita cukup realistis mengakhirinya dan terpaksa menerima cinta yang lain.

Kenangan membawaku pada malam sebelum hujan turun dengan derasnya. Kita pergi ke taman ria; karena kamu tau bahwa aku suka naik wahana bianglala. Melihat bulan purnama. Dan bintang. Dengan kita berdua mengarunginya.

Begitulah cara kita memutuskan untuk berpisah.

Kamu bilang lusa nanti kamu akan ikut ayahmu yang harus dinas ke luar Negeri. Kamu juga akan turut pindah rumah dan pindah sekolah.

..

Kita mengakhirinya dengan taman ria, bianglala dan jalan setapak yang disinari purnama dengan dua insan yang bergandengan tangan untuk pertama kali dan – mungkin – terakhir kalinya. Sampai ke depan rumah.

Kamu memelukku erat-erat sebelum kamu pulang ke rumah. Lagi-lagi, bagiku, untuk yang pertama kali dan – mungkin – terakhir kalinya.

..

Hujan deras hari ini seperti menahanmu untuk pergi. Tinggal esok hari. Tetapi, langit sepertinya tidak sudi untuk membiarkanku tidak melihat Benny lagi hari ini. Kita terjebak duduk berdua, di tengah hujan deras yang membenamkan perasaan-perasaan kita. Akupun mulai bertanya:

 “Apa?”, respon Benny atas permohonan yang aku ajukan untuk bertanya kepadanya.

“Waktu kamu menggenggam tangan dan memelukku kemarin, apakah itu sungguh bermakna sesuatu?”, tanyaku di tengah hujan deras yang turun.

“Pertanyaan ini harus kujawab?”

“Jika kamu berkenan. Iya. Bagiku ini penting.”

“Entah.”, jawab Benny dalam satu kata. Entah.

“Entah?”

“Maaf. Aku ga bisa jawab. Aku ga tau.

Dan itu adalah kalimat terakhir yang aku dengar dari Benny. Esok hari, aku tidak pernah lagi melihat wajahnya di sekolah. Andai pada waktu itu aku tau dan cukup siap bahwa aku juga takkan melihat wajahnya lagi untuk bertahun-tahun ke depan. Juga, takkan lagi mendengar walau suaranya.

Hujan deras kemarin benar-benar telah membenamkan semua kenanganku tentang kamu.

..

Mungkin waktu itu adalah pembicaraan terakhir kita. Pikiran membawaku kembali ke pesta pernikahan ini. Di hadapanku ada seorang pria – yang tidak aku cintai pada awalnya – hanya saja, ia begitu baik kepadaku. Dan – setidaknya – ia adalah pria yang selalu mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang segala keraguan di dalam hatiku. Yang tidak pernah terjawab oleh Benny.

Mungkin benar, pada akhirnya setiap perempuan akan mencintai orang yang tidak ia cintai pada awalnya. Kemudian, kita harus menerima realita bahwa kita akan hidup bersama pria ini selamanya. Pria yang sudah teramat baik berupaya mendapatkan cinta kita, hingga kita akhirnya belajar bersusah payah mencintainya karena mendekati umur dimana kita harus segera menikah. Kita memang mencintainya, namun ia bukanlah yang pertama kita inginkan pada awalnya. Kita dipaksa belajar.

Kemudian, kita menggugat Tuhan atas setiap perasaan yang tidak terbalas. Sampai bosan. Kita juga menggugat hati kita sendiri, karena belakangan kita menyadari bahwa Tuhan tidak pernah bisa dipersalahkan.

..

“Kasih itu sabar ; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan.”

Ini adalah saat aku menunggu seorang pria mendobrak pintu gereja dan berteriak,”TUNGGU!” sesaat sebelum aku menyatakan diri:

“Aku bersedia.”

Sampai kita sadar bahwa kisah cinta semacam itu hanya ada di dalam telenovela. Cinta tidak pernah seideal kelihatannya. Kita, manusia, juga menolak percaya dan terus-terusan mengimaninya. Kita dibuat dunia untuk tak percaya cinta.

“Mempelai pria, you may kiss the bride.” kata Pastor yang bersuara lirih dan menahan haru karena melihat pasangan yang saling mencintai ini akhirnya dipersatukan oleh Tuhan.

Kita telah melampaui kisah yang panjang. Dan di gereja ini adalah bagaimana kita bermula untuk memutuskan akhirnya.

“… dan apa yang dipersatukan oleh Tuhan tidak dapat dipisahkan oleh manusia. Selamanya.”

..

[Di luar gereja, setelah upacara pernikahan selesai.]

“Bu, tadi pernikahannya terasa haru banget ya.”

“Iya, jeng. Terasa sakral. Sepertinya mereka pasangan yang saling mencintai begitu dalam. Mempelai wanitanya sampai nangis terharu gitu, jeng

“Wah iya tuh! Aku juga rasanya terharu. Tadi ses liat ga pastornya? Nangis terharu juga, ses. Rasanya ini pertama kalinya ku datang ke upacara pernikahan yang pastornya juga ikut nangis terharu.”

“Iya ya, pastornya kelihatan bersahaja sekali. Masih muda. Tampan pula. Sayangnya pastor ga boleh menikah kalau  ga aku jodohin ke anak aku.”

Cieeeeee, ses. Kita gosip amat sih. Tapi, tadi siapa ya nama pastornya?”

..

Namanya Pastor Benny.

24 Juli 2013

Cinta adalah tentang perspektif.

14 responses to “Tak Percaya Cinta: Langkah Ketiga

  1. ” Sayangnya, konspirasi dunia tidak
    memberitahukan waktu: tentang
    berapa lama aku dan kamu boleh
    bersatu.”

    I like that line. :)

  2. wah, ga disangka ternyata pastornya Benny. :D
    apa perasaan sang mempelai wanita saat itu melihat Benny menjadi pastor pernikahannya? ga kebayang.

  3. Keren pak. Bagus bgt. Pendapat gw, mengenai Kasih yang ditulis, Itu Kasih Agape yah? Kalau iya, Hanya Tuhan yang bisa melakukan Kasih Agape tsb. Krna kita masih belajar bagaimana melakukan Kasih Agape tersebut.

  4. You wrote a very good stories do :-) its nice to know how you think through those stories

  5. bener-bener cerita yang membangkitkan saya yang sempat terpuruk dalam asmara…. terima kasih buat nice story nya :) salam :D

  6. Menarik dan mendalam, izin copas beberapa line yaa :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s